Aku berjalan perlahan, dua langkah mendekati
sebuah bangunan. Ku pandang nanar. Sebuah rumah tua yang tak berpenghuni, namun
masih tampak bercahaya. Lidahku kelu. Satu jam lamanya kakiku berpijak pada
satu titik yang sama. Perlahan kakiku berjalan mundur, menatap sekali lagi
bangunan tua itu, lalu berbalik. “Indira” bisikku.
—
Menyapa Desember, jejak-jejak hujan tak
kunjung menghilang. Tetes demi tetesnya menjadi irama tersendiri bagi siapa
saja yang mendengar. Ya, aku sendiri menyebutnya irama Desember. Irama yang
mampu menyatukan berbagai emosi, kemarahan, kebahagiaan dan juga kesedihan.
Pagi itu, ayam jantan berkokok lebih cepat
dari biasanya. Tidak ada yang tahu apa penyebabnya. Begadangkah? Konyol. Yang
jelas, tabiat ayam itu mengganggu tidurku. “Berisik,” gumamku seraya meraih
bantal terdekat untuk menutup telinga. Ku balikkan badanku ke kiri, lalu
semenit kemudian ke kanan, kemudian aku kembali mencoba menggeliat di atas
tempat tidur berukuran dua itu. Akhirnya aku terduduk, “aahhhh, sial! Ayam
br*ngsek!” umpatku kemudian.
Dengan langkah gontai, aku berjalan menuju
balkon dengan sesekali menggaruk rambutku. Ku tarik gorden yang menutup jendela
balkon. Masih gelap, batinku. Ku tarik pintu kaca, lalu ku regangkan tubuhku
dan ku tarik napas sekuat-kuatnya. Masih hidup, aku masih hidup hari ini. Aku
kembali membatin.
Lihat ku di sini… Kau buatku menangis… tak
ingin menyerah… tapi tak menye…
“Halo?” Kutempelkan handphone BlackBerry itu di telingaku setelah mengalunkan lagu Pemilik Hati – Armada cukup lama.
“Halo?” Kutempelkan handphone BlackBerry itu di telingaku setelah mengalunkan lagu Pemilik Hati – Armada cukup lama.
“Assalamualaikum,” sapa seseorang di seberang
telepon.
“Ya, walaikumsalam. Ada apa, Cindy?” jawabku.
“Maaf mengganggu waktu cuti anda, Dok,”
hening sejenak, “ada seorang pasien yang meminta untuk bertemu anda saat ini,”
lanjut Cindy, suster dari rumah sakit tempatku bekerja.
“Katakan saja padanya bahwa aku sekarang
sedang cuti”.
“Aku sudah mengatakannya, Dok. Tapi pasien
ini bersikeras ingin bertemu anda” jelas sekali suara Cindy mulai terdengar
kesal. Sepertinya jenis pasien yang sulit diatur, batinku.
“Pasien ini berkata, tidak ada dokter lain
yang mengerti kondisinya selain Dokter Ardian.”
“Oh, baiklah. Katakan padanya aku akan segera ke sana” ucapku akhirnya.
“Oh, baiklah. Katakan padanya aku akan segera ke sana” ucapku akhirnya.
“Baiklah, Dok. Assalamualaikum,” kemudian
sambungan terputus.
“Hmm, walaikumsalam.”
Sudah tiga tahun beranjak semenjak aku
dipindah tugaskan ke salah satu rumah sakit di daerah kelahiranku, Selayar.
Waktu berjalan sangat lambat bagiku. Hidupku terkesan telah direncanakan. Pola
hidup yang sangat membosankan. Namun bagaimanapun, aku tak tahu sejak kapan
Selayar menjadi pendiam. Suasananya tak lagi ramai seperti saat terkhir kali ku
injakkan kakiku di Tanadoang ini. Mungkinkah sepuluh tahun terlalu lama?
Entahlah.
—
KLEK. Ku buka pintu mobil sedan merahku, lalu
segera ku kuasai setirnya. Fiuhh. Tak kusangka berurusan dengan pasien itu
memerlukan waktu yang lama. Dan yang mengesalkan cengar-cengirnya itu loh.
Hanya karena tidak ingin penyakit ambeiennya diketahui oleh banyak dokter. Oh
God!! Dasar nenek si*lan, batinku.
TOK.. TOK.. Seseorang mengetuk kaca jendela
mobilku sebelum sempat ku injak pedal gasnya. Wanita?, tanyaku dalam hati
ketika melihat seorang wanita berbaju KORPRI yang mengetuk kaca mobilku. Segera
kutemui wanita asing tersebut. Aku menatapnya dari atas ke bawah, bingung
tentu. Keningku bahkan tampak berkerut. Anehnya, menyadari kebingunganku,
wanita itu malah tersenyum.
“Hai, Ardian” ucapnya memulai percakapan.
“Hai, Ardian” ucapnya memulai percakapan.
“Lama tak bertemu, bagaimana kabarmu? Kapan
kamu kembali ke Selayar?
Bukankah kamu sekeluarga pindah ke Yogya?”.
Rentetan pertanyaan yang berasal dari wanita asing ini semakin membuatku
bingung.
“Kamu tidak mengenaliku?” Lanjutnya setelah
melihat reaksiku. “Ika, kamu lupa? Teman sekelasmu saat kelas X SMA loh.”
“Ika?” hening sejenak. “Ah… Astaga!! Ika
Sulistiana?” tanyaku kaget. Namun dia hanya membalasnya dengan senyuman.
Ika Sulistiana, teman baikku saat SMA dulu.
Orangnya baik, gokil dan enak dijadikan tempat curhat. Banyak cerita yang
kubagi dengannya. Banyak.
Semuanya. Dan juga tentang perasaanku untuk
Dia.
“Hei, Ian,” Ika melambaikan tangannya tepat
di depan manik mataku. Membuyarkan lamunan yang baru akan ku bangun. “Ada apa?”
tanyanya.
“Ah, tidak. Aku hanya belum percaya ini
beneran kamu.”
“Apa maksud kamu?” tanyanya bingung.
“Tidak, jangan salah paham,” ucapku menahan
tawa, “aku hanya bertanya-tanya kamu kemanakan pipi chubby dan semua
lemak-lemakmu itu.” Akhirnya aku tak lagi dapat menahan tawaku.
“Dasar si*lan” katanya kesal sambil meninju
pelan bahuku.
—
“Yakk, pukul yang kencang!!” Teriak seorang
siswi.
“Jangan lengah. Jangan lengah!! Kembali ke
posisi masing-masing.” Teriak siswi yang lain.
“Hei, itu out!!! Dasar bodoh!!” Terus terdengar
teriakan yang saling bersahutan. Berisik, batinku.
Saat ini terik mencapai ubun-ubun, namun
semangat siswa SMPN 1 itu tidak luntur mengikuti kegiatan PORSENI. Terlebih
saat ini sedang berlangsung pertandingan volly putra antar kelas yang mampu
menarik urat-urat penonton. Sangat seru sebenarnya, namun teriakan siswa
terlalu berlebihan. Mereka belum sadar betapa memang penonton jauh lebih hebat
dari pemain. Dasar.
Bagaimanapun, aku tetap mengikuti alur pertandingan dengan cukup bersemangat. Dimanapun bola berada, di situlah pandanganku terpaut.
Bagaimanapun, aku tetap mengikuti alur pertandingan dengan cukup bersemangat. Dimanapun bola berada, di situlah pandanganku terpaut.
DEG. “Tendangan yang keren. Pertahankan.”
riuh penonton kembali memuncak. “YAYY!! Semangat! Semangat!” Kata anak lainnya.
Namun sayangnya, adegan-adegan itu sudah tak lagi tampak di mataku. Bahkan
semua suara di sekitarku terdengar samar, tak nyata. Duniaku serasa mengecil.
Menyempit. Hanya ada aku, dan seseorang yang telah mengalihkan pandanganku. Ya,
seseorang.
Cantik, itulah kesan pertama yang ku tangkap
saat melihat gadis berkerudung itu. Cantik. Kata itu terus terulang dalam
benakku. Aku tak tahu mengapa dia terlihat begitu berkilau. Senyumnya, matanya,
dan gerak-geriknya yang nampak bersemangat.
Ku kuatkan tekadku. Tarik nafas lalu
keluarkan. Perlahan tapi pasti, aku melangkah mendekati gadis itu. Tanganku
terangkat hendak menepuk pundaknya, lidahku ingin berucap untuk menyapanya. Oh,
ayolah! Kenapa semua tubuhku terasa kaku?, aku membatin. Ini tidak lucu,
pikirku.
“Hai” sapaku akhirnya.
Tampak bingung, ia bertanya, “aku?” tunjuknya
pada diri sendiri.
Aku hanya tertawa hambar, lalu mengulurkan
tangan, “Ardian.”
“Oh, hai. Namaku Indira. Panggil saja Dira.”
Sambil tersenyum ia berkata.
Sial, lagi-lagi senyum itu, aku merutuk dalam
hati. “Oh, Dira.”
Hening sejenak, atau mungkin hanya aku yang
berpikir demikian. Toh, jelas saat ini semua orang masih sibuk memberi semangat
pada para pemain volly. Lalu mengapa aku merasa canggung?, tanyaku heran. Aku
sangat yakin jika saat ini wajahku tampak sangat bodoh.
“Kamu,” kataku menggantung, “kelas berapa?”
sambungku.
“Kelas IX, IX. 1 tepatnya.”
“Oh,” suasana kembali ku rasa hening.
Sudah lima menitkah berlalu? Entahlah. Yang
jelas saat ini pikiranku benar-benar kosong. Di antara jeda percakapa kami,
samar-samar kembali ku dengar teriakan-teriakan penonton yang tadi ku rasa
bungkam.
“Ian, Ian. Hei” suara lembut Indira merasuk
ke dalam otakku.
“Eh, iya? Ada apa?” aku bertanya dengan nada
linglung, Indira bahkan terkekeh pelan melihatnya. Sial!
“Aku hanya mau bilang kalau aku harus kembali
ke kelas, teman-temanku manggil tuh,” tunjuknya pada beberapa siswi yang ku
ingat wajahnya.
“Oh, iya. Baiklah. Sampai nanti.” ucapku
akhirnya.
Setelah sekali lagi menebar senyum manisnya
itu, Indira kemudian berbalik.
Berlari-lari kecil menuju teman-temannya.
Sekali dia menoleh padaku, ku sampaikan senyum terbaikku. Dia pun membalasnya
dengan senyuman yang semakin menawan. Cantik.
—
Hari demi hari berlalu. Oktober menyapa
November, lalu November juga menyapa Desember. Waktu berjalan seperti biasa
memang. Namun bagiku, terasa berbeda. Aku merasa gila karena berpikir kupu-kupu
bernyanyi dalam hatiku.
Semenjak hari itu, sejak perkenalan itu, pandanganku tak bisa beralih saat melihatnya. Kepalaku tak lelah terus menengok mencari sosoknya. Saat dia mempunyai jam olahraga, saat di kantin, bahkan saat kan berpisah setelah bel pulang, mataku akan terus memandangnya. Aku bahkan sanggup membuat beribu alasan hanya untuk dapat melihatnya hari ini, menit ini dan bahkan detik ini. Tapi aku yang seperti ini, hanya dapat melihat sosoknya dari tempat yang jauh, dari belakang punggungnya. Tidak bergerak dan tidak melakukan apa-apa. Pengecut, umpatku.
Semenjak hari itu, sejak perkenalan itu, pandanganku tak bisa beralih saat melihatnya. Kepalaku tak lelah terus menengok mencari sosoknya. Saat dia mempunyai jam olahraga, saat di kantin, bahkan saat kan berpisah setelah bel pulang, mataku akan terus memandangnya. Aku bahkan sanggup membuat beribu alasan hanya untuk dapat melihatnya hari ini, menit ini dan bahkan detik ini. Tapi aku yang seperti ini, hanya dapat melihat sosoknya dari tempat yang jauh, dari belakang punggungnya. Tidak bergerak dan tidak melakukan apa-apa. Pengecut, umpatku.
—
BRUMMMM. Ku lajukan mobil sedanku dalam
kecepatan sedang. Setelah pertemuan dengan Ika, entah mengapa ingatan membawaku
kembali pada sosok Indira. Gadis itu masih menempati ruang istimewa di hatiku
meski 13 tahun yang berlalu. Perasaan ini nampak terpaku pada satu relung
hatiku. Saat itu aku terus membisik namanya dalam tidurku. Beranjak menginjak
sekolah menengah atas, terus ku tatap Indira dalam diam. Menatap punggungnya
dan memanggil namanya. Bodoh terlihat, namun ketika seseorang merasakan
perasaan ini, apa yang kurasa akan terkesan sangat biasa.
Salah satu alasanku menerima penawaran pindah
tugas ini tampaknya jelas. Masih ada secercah harapanku untuk bisa melihat senyum
itu lagi. Senyum yang membuat jantungku berdegup. Senyum yang ingin kulindungi.
Sejak kepindahanku, aku lost contact dari
Indira. Aku tidak tahu dia kuliah dimana, dan sekarang apa yang sedang
dilakukannya. Harusnya aku tak perlu berpikir dua kali untuk mengikuti saran
teman-temanku saat itu. Harusnya segera ku minta nomornya, lalu mengajaknya
berbincang-bincang. Ika, Reno dan Wandi, teman-teman baikku semasa SMA tidak
pernah lelah menasehatiku untuk membuat satu tetes perubahan.
Pikiranku yang melambung terhenti sejenak
saat aku memasuki gerbang rumahku. Segera kuparkir teman merahku ini, lalu
kulangkahkan kakiku ke dalam rumah minimalis itu. Sesekali aku memutar-mutar
kunci mobil yang ku pegang saat ini. Berharap aksi tersebut dapat mengurangi
sedikit rasa lelahku.
Ahhh. Aku kemudian merebahkan tubuhku di atas
sofa. Ku angkat kedua tanganku untuk meregangkan tubuh. Aku benar-benar merasa
lelah. Namun, sesaat kemudian aku meraih laptop dari dalam tasku, ku tekan
tombol On untuk mengaktifkan kerjanya. Sudah menjadi kebiasaanku membuka email
setelah pulang kerja. Sekedar menghibur diri dari rutinitas yang membosankan.
KLIK. Terlihat tanda email baru yang masuk setelah aku sign in ke dalam akun emailku. Mungkin penting, batinku. DEG. Mataku melotot menatap pesan singkat itu.
KLIK. Terlihat tanda email baru yang masuk setelah aku sign in ke dalam akun emailku. Mungkin penting, batinku. DEG. Mataku melotot menatap pesan singkat itu.
Dimana kamu sekarang? Ada kabar buruk yang
harus kuberitahukan. Ini tentang Indira. Aku tak tahu bagaimana perasaanmu saat
ini padanya. Masih samakah? Itu tidak penting! Yang jelas kabar ini akan
membuatmu terkejut. Jadi ku mohon jangan lakukan hal-hal bodoh yang akan
merugikanmu.
Indira, dia …
Meninggal.
Kejadiannya dua hari lalu. Namun aku sendiri baru mengetahuinya siang ini. Dari kabar yang ku dengar, dia mengalami kecelakaan maut. Korban lainnya selamat dengan kaki yang patah, namun Indira…
Kejadiannya dua hari lalu. Namun aku sendiri baru mengetahuinya siang ini. Dari kabar yang ku dengar, dia mengalami kecelakaan maut. Korban lainnya selamat dengan kaki yang patah, namun Indira…
Acara pemakamannya besok sore di Bandung.
Jika sempat, hadirlah. Aku tahu ini berat bagimu. Aku pun juga begitu. Tolong
bersikap tabah, jangan membuat Indira merasa cemas dari alam sana. Jangan
membuatnya menyesal karena tidak menyadari kehadiranmu dalam hidupnya.
Dan kamu juga, tidak boleh menyesali apapun.
Sesaat aku tak dapat bergerak dari posisiku.
Setelah membaca email dari Reno, duniaku terasa berputar, namun bukan putaran
yang mendebarkan. Melainkan putaran yang membuat air menggenang di pelupuk
mataku. Dadaku sesak, aku merasa sulit bernapas. Ke pegangi dada kiriku, tempat
bersemayamnya pusat kehidupanku. Tiba-tiba semua benda tampak buram di mataku,
samar dan abstrak. Oh, Tuhan.
—
Di sinilah aku. Aku berjalan perlahan, dua
langkah mendekati sebuah bangunan. Bangunan berukuran 15 x 30 meter itu
merupakan tempat tinggal Indira. Tempat yang selalu ku pandangi untuk dapat
melihatnya dari rumah Ika. Dulu. Saat aku masih bisa melihat senyumnya. Saat
aku masih bisa bertanya tentang kabarnya. Ku pandang nanar tempat itu. Sebuah
rumah tua yang kini tak berpenghuni, namun masih tampak bercahaya. Lidahku
keluh. Satu jam lamanya kakiku berpijak pada satu titik yang sama. Lalu aku
berjalan mundur beberapa langkah dengan wajah tengadah, lalu di depan bangunan
itu, aku mengatupkan kedua tangan agar membentuk corong di sekitar mulut, lalu
aku berteriak sekeras-kerasnya: “INDIRAA!”
—
TIK. TIK. Aku terbangun dengan napas
tersengal-sengal. Keringat membanjiri jelas tubuhku. Teringat mimpi yang baru
saja ku alami, segera aku melompat dari tempat tidur. Aku bergegas menuju
cermin besar di pojok kamar. Ku pandangi wajahku. Lalu segera ku cek kalender
untuk memastikan waktu. Ternyata benar, apa yang baru saja ku alami hanya
mimpi. Syukurlah, batinku lega. Wajahku masih tampak seperti anak SMA, meski
kini tampak lebih pucat. Dan yang pasti saat ini angka 2013 masih terpampang
jelas pada kalender kamarku. Lalu kulirik singkat jam dinding yang terpajang manis
di dinding kamarku. Pukul 5 sore ternyata.
Aku kembali teringat mimpi itu. Aku tidak
pernah berpikir tentang hal ini sebelumnya. Tapi, jika suatu saat Indira harus
pergi dan tak kan kembali, apa yang harus kulakukan. Atau jika dia harus
menjadi pendamping hidup orang lain kelak, apa yang akan terjadi padaku? Aku
tidak pernah memikirkan kemungkinan-kemungkinan itu sebelumnya.
Tak berpikir lama lagi, segera ku raih
jaketku orangeku yang tersimpan acak di atas kursi. Aku kemudian berlari-lari
kecil menuju teras rumah. Saat aku telah bertengger manis di atas motor ninja
merahku ini, adikku datang.
“Sepertinya buru-buru. Apakah sesuatu telah
terjadi? Lalu kakak mau kemana?” adikku, Firman bertanya bingung.
“Aku akan pergi mencuri” kataku singkat tanpa
muncul keinginan untuk menjelaskan. Segera kunyalakan motor kesayanganku ini.
Tampak jelas raut kebingungan di wajah
adikku. Dia pasti akan berpikir aneh tentangku. BRUMMM. Aku tak perduli. Segera
ku tancap gas motor ini, meninggalkan Firman dalam bingung.
Sedikit merasa bersalah pada adik kecilku
itu. Namun aku sungguh tak berbohong apapun padanya. Saat ini, aku benar-benar
akan melakukan tindak kriminal pencurian. Aku hanya tidak ingin merasakan
penyesalan akhirnya.
Ya, aku sungguh-sungguh akan melakukan
pencurian.
Mencuri hati Indira.
Cerpen Karangan: Penggugah Dunia
Blog: A little thing about Nia






0 komentar:
Posting Komentar
Silahkan berkomentar dengan sopan yaa :)