Sabtu, 03 Januari 2015

[Cerpen] Still Love You For Another 13 Years

Aku berjalan perlahan, dua langkah mendekati sebuah bangunan. Ku pandang nanar. Sebuah rumah tua yang tak berpenghuni, namun masih tampak bercahaya. Lidahku kelu. Satu jam lamanya kakiku berpijak pada satu titik yang sama. Perlahan kakiku berjalan mundur, menatap sekali lagi bangunan tua itu, lalu berbalik. “Indira” bisikku.
Menyapa Desember, jejak-jejak hujan tak kunjung menghilang. Tetes demi tetesnya menjadi irama tersendiri bagi siapa saja yang mendengar. Ya, aku sendiri menyebutnya irama Desember. Irama yang mampu menyatukan berbagai emosi, kemarahan, kebahagiaan dan juga kesedihan.
Pagi itu, ayam jantan berkokok lebih cepat dari biasanya. Tidak ada yang tahu apa penyebabnya. Begadangkah? Konyol. Yang jelas, tabiat ayam itu mengganggu tidurku. “Berisik,” gumamku seraya meraih bantal terdekat untuk menutup telinga. Ku balikkan badanku ke kiri, lalu semenit kemudian ke kanan, kemudian aku kembali mencoba menggeliat di atas tempat tidur berukuran dua itu. Akhirnya aku terduduk, “aahhhh, sial! Ayam br*ngsek!” umpatku kemudian.
Dengan langkah gontai, aku berjalan menuju balkon dengan sesekali menggaruk rambutku. Ku tarik gorden yang menutup jendela balkon. Masih gelap, batinku. Ku tarik pintu kaca, lalu ku regangkan tubuhku dan ku tarik napas sekuat-kuatnya. Masih hidup, aku masih hidup hari ini. Aku kembali membatin.
Lihat ku di sini… Kau buatku menangis… tak ingin menyerah… tapi tak menye…
“Halo?” Kutempelkan handphone BlackBerry itu di telingaku setelah mengalunkan lagu Pemilik Hati – Armada cukup lama.
“Assalamualaikum,” sapa seseorang di seberang telepon.
“Ya, walaikumsalam. Ada apa, Cindy?” jawabku.
“Maaf mengganggu waktu cuti anda, Dok,” hening sejenak, “ada seorang pasien yang meminta untuk bertemu anda saat ini,” lanjut Cindy, suster dari rumah sakit tempatku bekerja.
“Katakan saja padanya bahwa aku sekarang sedang cuti”.
“Aku sudah mengatakannya, Dok. Tapi pasien ini bersikeras ingin bertemu anda” jelas sekali suara Cindy mulai terdengar kesal. Sepertinya jenis pasien yang sulit diatur, batinku.
“Pasien ini berkata, tidak ada dokter lain yang mengerti kondisinya selain Dokter Ardian.”
“Oh, baiklah. Katakan padanya aku akan segera ke sana” ucapku akhirnya.
“Baiklah, Dok. Assalamualaikum,” kemudian sambungan terputus.
“Hmm, walaikumsalam.”
Sudah tiga tahun beranjak semenjak aku dipindah tugaskan ke salah satu rumah sakit di daerah kelahiranku, Selayar. Waktu berjalan sangat lambat bagiku. Hidupku terkesan telah direncanakan. Pola hidup yang sangat membosankan. Namun bagaimanapun, aku tak tahu sejak kapan Selayar menjadi pendiam. Suasananya tak lagi ramai seperti saat terkhir kali ku injakkan kakiku di Tanadoang ini. Mungkinkah sepuluh tahun terlalu lama? Entahlah.
KLEK. Ku buka pintu mobil sedan merahku, lalu segera ku kuasai setirnya. Fiuhh. Tak kusangka berurusan dengan pasien itu memerlukan waktu yang lama. Dan yang mengesalkan cengar-cengirnya itu loh. Hanya karena tidak ingin penyakit ambeiennya diketahui oleh banyak dokter. Oh God!! Dasar nenek si*lan, batinku.
TOK.. TOK.. Seseorang mengetuk kaca jendela mobilku sebelum sempat ku injak pedal gasnya. Wanita?, tanyaku dalam hati ketika melihat seorang wanita berbaju KORPRI yang mengetuk kaca mobilku. Segera kutemui wanita asing tersebut. Aku menatapnya dari atas ke bawah, bingung tentu. Keningku bahkan tampak berkerut. Anehnya, menyadari kebingunganku, wanita itu malah tersenyum.
“Hai, Ardian” ucapnya memulai percakapan.
“Lama tak bertemu, bagaimana kabarmu? Kapan kamu kembali ke Selayar?
Bukankah kamu sekeluarga pindah ke Yogya?”. Rentetan pertanyaan yang berasal dari wanita asing ini semakin membuatku bingung.
“Kamu tidak mengenaliku?” Lanjutnya setelah melihat reaksiku. “Ika, kamu lupa? Teman sekelasmu saat kelas X SMA loh.”
“Ika?” hening sejenak. “Ah… Astaga!! Ika Sulistiana?” tanyaku kaget. Namun dia hanya membalasnya dengan senyuman.
Ika Sulistiana, teman baikku saat SMA dulu. Orangnya baik, gokil dan enak dijadikan tempat curhat. Banyak cerita yang kubagi dengannya. Banyak.
Semuanya. Dan juga tentang perasaanku untuk Dia.
“Hei, Ian,” Ika melambaikan tangannya tepat di depan manik mataku. Membuyarkan lamunan yang baru akan ku bangun. “Ada apa?” tanyanya.
“Ah, tidak. Aku hanya belum percaya ini beneran kamu.”
“Apa maksud kamu?” tanyanya bingung.
“Tidak, jangan salah paham,” ucapku menahan tawa, “aku hanya bertanya-tanya kamu kemanakan pipi chubby dan semua lemak-lemakmu itu.” Akhirnya aku tak lagi dapat menahan tawaku.
“Dasar si*lan” katanya kesal sambil meninju pelan bahuku.
“Yakk, pukul yang kencang!!” Teriak seorang siswi.
“Jangan lengah. Jangan lengah!! Kembali ke posisi masing-masing.” Teriak siswi yang lain.
“Hei, itu out!!! Dasar bodoh!!” Terus terdengar teriakan yang saling bersahutan. Berisik, batinku.
Saat ini terik mencapai ubun-ubun, namun semangat siswa SMPN 1 itu tidak luntur mengikuti kegiatan PORSENI. Terlebih saat ini sedang berlangsung pertandingan volly putra antar kelas yang mampu menarik urat-urat penonton. Sangat seru sebenarnya, namun teriakan siswa terlalu berlebihan. Mereka belum sadar betapa memang penonton jauh lebih hebat dari pemain. Dasar.
Bagaimanapun, aku tetap mengikuti alur pertandingan dengan cukup bersemangat. Dimanapun bola berada, di situlah pandanganku terpaut.
DEG. “Tendangan yang keren. Pertahankan.” riuh penonton kembali memuncak. “YAYY!! Semangat! Semangat!” Kata anak lainnya. Namun sayangnya, adegan-adegan itu sudah tak lagi tampak di mataku. Bahkan semua suara di sekitarku terdengar samar, tak nyata. Duniaku serasa mengecil. Menyempit. Hanya ada aku, dan seseorang yang telah mengalihkan pandanganku. Ya, seseorang.
Cantik, itulah kesan pertama yang ku tangkap saat melihat gadis berkerudung itu. Cantik. Kata itu terus terulang dalam benakku. Aku tak tahu mengapa dia terlihat begitu berkilau. Senyumnya, matanya, dan gerak-geriknya yang nampak bersemangat.
Ku kuatkan tekadku. Tarik nafas lalu keluarkan. Perlahan tapi pasti, aku melangkah mendekati gadis itu. Tanganku terangkat hendak menepuk pundaknya, lidahku ingin berucap untuk menyapanya. Oh, ayolah! Kenapa semua tubuhku terasa kaku?, aku membatin. Ini tidak lucu, pikirku.
“Hai” sapaku akhirnya.
Tampak bingung, ia bertanya, “aku?” tunjuknya pada diri sendiri.
Aku hanya tertawa hambar, lalu mengulurkan tangan, “Ardian.”
“Oh, hai. Namaku Indira. Panggil saja Dira.” Sambil tersenyum ia berkata.
Sial, lagi-lagi senyum itu, aku merutuk dalam hati. “Oh, Dira.”
Hening sejenak, atau mungkin hanya aku yang berpikir demikian. Toh, jelas saat ini semua orang masih sibuk memberi semangat pada para pemain volly. Lalu mengapa aku merasa canggung?, tanyaku heran. Aku sangat yakin jika saat ini wajahku tampak sangat bodoh.
“Kamu,” kataku menggantung, “kelas berapa?” sambungku.
“Kelas IX, IX. 1 tepatnya.”
“Oh,” suasana kembali ku rasa hening.
Sudah lima menitkah berlalu? Entahlah. Yang jelas saat ini pikiranku benar-benar kosong. Di antara jeda percakapa kami, samar-samar kembali ku dengar teriakan-teriakan penonton yang tadi ku rasa bungkam.
“Ian, Ian. Hei” suara lembut Indira merasuk ke dalam otakku.
“Eh, iya? Ada apa?” aku bertanya dengan nada linglung, Indira bahkan terkekeh pelan melihatnya. Sial!
“Aku hanya mau bilang kalau aku harus kembali ke kelas, teman-temanku manggil tuh,” tunjuknya pada beberapa siswi yang ku ingat wajahnya.
“Oh, iya. Baiklah. Sampai nanti.” ucapku akhirnya.
Setelah sekali lagi menebar senyum manisnya itu, Indira kemudian berbalik.
Berlari-lari kecil menuju teman-temannya. Sekali dia menoleh padaku, ku sampaikan senyum terbaikku. Dia pun membalasnya dengan senyuman yang semakin menawan. Cantik.
Hari demi hari berlalu. Oktober menyapa November, lalu November juga menyapa Desember. Waktu berjalan seperti biasa memang. Namun bagiku, terasa berbeda. Aku merasa gila karena berpikir kupu-kupu bernyanyi dalam hatiku.
Semenjak hari itu, sejak perkenalan itu, pandanganku tak bisa beralih saat melihatnya. Kepalaku tak lelah terus menengok mencari sosoknya. Saat dia mempunyai jam olahraga, saat di kantin, bahkan saat kan berpisah setelah bel pulang, mataku akan terus memandangnya. Aku bahkan sanggup membuat beribu alasan hanya untuk dapat melihatnya hari ini, menit ini dan bahkan detik ini. Tapi aku yang seperti ini, hanya dapat melihat sosoknya dari tempat yang jauh, dari belakang punggungnya. Tidak bergerak dan tidak melakukan apa-apa. Pengecut, umpatku.
BRUMMMM. Ku lajukan mobil sedanku dalam kecepatan sedang. Setelah pertemuan dengan Ika, entah mengapa ingatan membawaku kembali pada sosok Indira. Gadis itu masih menempati ruang istimewa di hatiku meski 13 tahun yang berlalu. Perasaan ini nampak terpaku pada satu relung hatiku. Saat itu aku terus membisik namanya dalam tidurku. Beranjak menginjak sekolah menengah atas, terus ku tatap Indira dalam diam. Menatap punggungnya dan memanggil namanya. Bodoh terlihat, namun ketika seseorang merasakan perasaan ini, apa yang kurasa akan terkesan sangat biasa.
Salah satu alasanku menerima penawaran pindah tugas ini tampaknya jelas. Masih ada secercah harapanku untuk bisa melihat senyum itu lagi. Senyum yang membuat jantungku berdegup. Senyum yang ingin kulindungi.
Sejak kepindahanku, aku lost contact dari Indira. Aku tidak tahu dia kuliah dimana, dan sekarang apa yang sedang dilakukannya. Harusnya aku tak perlu berpikir dua kali untuk mengikuti saran teman-temanku saat itu. Harusnya segera ku minta nomornya, lalu mengajaknya berbincang-bincang. Ika, Reno dan Wandi, teman-teman baikku semasa SMA tidak pernah lelah menasehatiku untuk membuat satu tetes perubahan.
Pikiranku yang melambung terhenti sejenak saat aku memasuki gerbang rumahku. Segera kuparkir teman merahku ini, lalu kulangkahkan kakiku ke dalam rumah minimalis itu. Sesekali aku memutar-mutar kunci mobil yang ku pegang saat ini. Berharap aksi tersebut dapat mengurangi sedikit rasa lelahku.
Ahhh. Aku kemudian merebahkan tubuhku di atas sofa. Ku angkat kedua tanganku untuk meregangkan tubuh. Aku benar-benar merasa lelah. Namun, sesaat kemudian aku meraih laptop dari dalam tasku, ku tekan tombol On untuk mengaktifkan kerjanya. Sudah menjadi kebiasaanku membuka email setelah pulang kerja. Sekedar menghibur diri dari rutinitas yang membosankan.
KLIK. Terlihat tanda email baru yang masuk setelah aku sign in ke dalam akun emailku. Mungkin penting, batinku. DEG. Mataku melotot menatap pesan singkat itu.
Dimana kamu sekarang? Ada kabar buruk yang harus kuberitahukan. Ini tentang Indira. Aku tak tahu bagaimana perasaanmu saat ini padanya. Masih samakah? Itu tidak penting! Yang jelas kabar ini akan membuatmu terkejut. Jadi ku mohon jangan lakukan hal-hal bodoh yang akan merugikanmu.
Indira, dia …
Meninggal.
Kejadiannya dua hari lalu. Namun aku sendiri baru mengetahuinya siang ini. Dari kabar yang ku dengar, dia mengalami kecelakaan maut. Korban lainnya selamat dengan kaki yang patah, namun Indira…
Acara pemakamannya besok sore di Bandung. Jika sempat, hadirlah. Aku tahu ini berat bagimu. Aku pun juga begitu. Tolong bersikap tabah, jangan membuat Indira merasa cemas dari alam sana. Jangan membuatnya menyesal karena tidak menyadari kehadiranmu dalam hidupnya.
Dan kamu juga, tidak boleh menyesali apapun.
Sesaat aku tak dapat bergerak dari posisiku. Setelah membaca email dari Reno, duniaku terasa berputar, namun bukan putaran yang mendebarkan. Melainkan putaran yang membuat air menggenang di pelupuk mataku. Dadaku sesak, aku merasa sulit bernapas. Ke pegangi dada kiriku, tempat bersemayamnya pusat kehidupanku. Tiba-tiba semua benda tampak buram di mataku, samar dan abstrak. Oh, Tuhan.
Di sinilah aku. Aku berjalan perlahan, dua langkah mendekati sebuah bangunan. Bangunan berukuran 15 x 30 meter itu merupakan tempat tinggal Indira. Tempat yang selalu ku pandangi untuk dapat melihatnya dari rumah Ika. Dulu. Saat aku masih bisa melihat senyumnya. Saat aku masih bisa bertanya tentang kabarnya. Ku pandang nanar tempat itu. Sebuah rumah tua yang kini tak berpenghuni, namun masih tampak bercahaya. Lidahku keluh. Satu jam lamanya kakiku berpijak pada satu titik yang sama. Lalu aku berjalan mundur beberapa langkah dengan wajah tengadah, lalu di depan bangunan itu, aku mengatupkan kedua tangan agar membentuk corong di sekitar mulut, lalu aku berteriak sekeras-kerasnya: “INDIRAA!”
TIK. TIK. Aku terbangun dengan napas tersengal-sengal. Keringat membanjiri jelas tubuhku. Teringat mimpi yang baru saja ku alami, segera aku melompat dari tempat tidur. Aku bergegas menuju cermin besar di pojok kamar. Ku pandangi wajahku. Lalu segera ku cek kalender untuk memastikan waktu. Ternyata benar, apa yang baru saja ku alami hanya mimpi. Syukurlah, batinku lega. Wajahku masih tampak seperti anak SMA, meski kini tampak lebih pucat. Dan yang pasti saat ini angka 2013 masih terpampang jelas pada kalender kamarku. Lalu kulirik singkat jam dinding yang terpajang manis di dinding kamarku. Pukul 5 sore ternyata.
Aku kembali teringat mimpi itu. Aku tidak pernah berpikir tentang hal ini sebelumnya. Tapi, jika suatu saat Indira harus pergi dan tak kan kembali, apa yang harus kulakukan. Atau jika dia harus menjadi pendamping hidup orang lain kelak, apa yang akan terjadi padaku? Aku tidak pernah memikirkan kemungkinan-kemungkinan itu sebelumnya.
Tak berpikir lama lagi, segera ku raih jaketku orangeku yang tersimpan acak di atas kursi. Aku kemudian berlari-lari kecil menuju teras rumah. Saat aku telah bertengger manis di atas motor ninja merahku ini, adikku datang.
“Sepertinya buru-buru. Apakah sesuatu telah terjadi? Lalu kakak mau kemana?” adikku, Firman bertanya bingung.
“Aku akan pergi mencuri” kataku singkat tanpa muncul keinginan untuk menjelaskan. Segera kunyalakan motor kesayanganku ini.
Tampak jelas raut kebingungan di wajah adikku. Dia pasti akan berpikir aneh tentangku. BRUMMM. Aku tak perduli. Segera ku tancap gas motor ini, meninggalkan Firman dalam bingung.
Sedikit merasa bersalah pada adik kecilku itu. Namun aku sungguh tak berbohong apapun padanya. Saat ini, aku benar-benar akan melakukan tindak kriminal pencurian. Aku hanya tidak ingin merasakan penyesalan akhirnya.
Ya, aku sungguh-sungguh akan melakukan pencurian.
Mencuri hati Indira.

Cerpen Karangan: Penggugah Dunia
Blog: A little thing about Nia

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan berkomentar dengan sopan yaa :)