Rintik-rintik hujan di pagi hari itu membasahi jendela
kamar seorang gadis. Dari balik jendela, terlihat seorang gadis cantik yang
sedang menikmati setiap bulir air hujan yang jatuh. Sepasang mata coklat
mudanya selalu terlihat terpesona dan memancarkan kebahagiaan setiap menikmati
hujan. Selama ini ia hanya dapat menikmati hujan lewat jendela kamarnya. Ia
berharap suatu saat nanti ia bisa menikmati kesegaran air hujan di luar sana.
Tiba-tiba ada tangan yang menepuk pundaknya dan seketika membuyarkan
lamunannya. Ternyata bundanya telah berdiri di belakangnya yang kemudian
berbisik.
“Ayo sayang kamu segera mandi. Hari ini kan hari
pertama kamu pindah ke sekolah baru kamu. Jangan sampai terlambat!”
Gadis tersebut lalu membalas dengan anggukan kecil dan
senyum yang mengembang di wajahnya.
—
Jalanan Jakarta pada jam-jam tertentu seperti saat ini
memang sangat padat. Apalagi hari ini adalah hari pertama masuk sekolah setelah
libur panjang selama dua minggu. Hal itu juga yang sedang dialami oleh gadis
cantik berambut panjang sepinggang yang memiliki sepasang mata coklat muda dan
berhidung mancung serta kulit putih yang bersih dan tinggi badan yang bisa
dibilang ideal. Gadis itu baru saja pindah dari Bandung dan akan masuk sebagai
siswi kelas X SMA di sekolahnya yang baru pada hari ini. Gadis yang memiliki
nama lengkap Keisha Amelia atau yang lebih akrab dipanggil Sasha adalah gadis
cerdas dengan segudang prestasi. Ia terpaksa pindah dari Bandung karena kantor
ayahnya pindah ke Jakarta.
Pagi itu Sasha berangkat sekolah diantar ayahnya,
karena masih harus mengurus beberapa administrasi kepindahannya. Selesai
mengurus administrasi, ayahnya berpamitan karena ada rapat mendadak sehingga tidak
bisa mengantar Sasha sampai ke kelas barunya.
“Ayah berangkat ke kantor dulu ya. Kamu baik-baik
disini, nanti kamu akan diantar bu Anita ke kelas baru kamu.” Kata ayahnya
seraya mencium kening anak semata wayangnya itu.
“Siap bos. Ayah hati-hati di jalan ya.” Jawab Sasha.
Sebelum berangkat ayahnya sempat melambaikan tangan dan berkata sampai jumpa.
Sebelum berangkat ayahnya sempat melambaikan tangan dan berkata sampai jumpa.
—
Sasha masuk di kelas X-MIA 4 yang lokasinya berada di
lantai dua gedung utama sekolah Sasha, tepat di atas lobi tempat Sasha mengurus
administrasi tadi. Ia menyusuri koridor dengan langkah cepat sambil mengekor di
belakang bu Anita. Sesampainya di kelas, bu Anita memperkenalkan Sasha kepada
teman-teman sekelasnya.
“Anak-anak, hari ini kalian akan mendapat teman baru.” Ucap bu Anita seraya mempersilahkan Sasha masuk ke dalam kelas.
“Anak-anak, hari ini kalian akan mendapat teman baru.” Ucap bu Anita seraya mempersilahkan Sasha masuk ke dalam kelas.
Semua mata memandang Sasha, mulai dari ujung rambut
sampai ujung kaki. Siswa laki-laki ada yang bersiul-siul, bahkan ada yang
bengong karena terkagum-kagum. Sementara siswi perempuan mulai bergosip, banyak
yang suka akan kehadiran Sasha, namun tidak sedikit yang tidak suka karena iri
dengan kecantikannya.
“Namanya Keisha Amelia, atau lebih akrab dipanggil Sasha.” Jelas bu Anita. Namun ketika bu Anita akan melanjutkan perkataannya, seisi kelas mulai ribut dengan obrolan masing-masing. Sebelum kelas semakin ribut seperti pasar minggu, akhirnya bu Anita memukul penghapus papan ke meja seraya berteriak “Sudaaaaaah, diaaam semuaaa!” seketika kelas hening, karena jika bu Anita sudah marah tidak ada satu orang pun yang berani bersuara.
“Namanya Keisha Amelia, atau lebih akrab dipanggil Sasha.” Jelas bu Anita. Namun ketika bu Anita akan melanjutkan perkataannya, seisi kelas mulai ribut dengan obrolan masing-masing. Sebelum kelas semakin ribut seperti pasar minggu, akhirnya bu Anita memukul penghapus papan ke meja seraya berteriak “Sudaaaaaah, diaaam semuaaa!” seketika kelas hening, karena jika bu Anita sudah marah tidak ada satu orang pun yang berani bersuara.
“Baik, akan saya lanjutkan lagi perkenalan Sasha. Dia
murid pindahan dari Bandung, dia pindah ke Jakarta karena kantor ayahnya pindah
ke Jakarta. Di sekolahnya dulu, dia adalah bintang sekolah yang memiliki
segudang prestasi. Saya berharap kalian mau menjadi teman baiknya dan jangan
mengucilkannya!” Kemudian bu Anita mempersilahkan Sasha duduk di sebelah ketua
kelas X-MIA 4, Aira.
“Hai, namaku Airanda Rusdiantoro. Panggil aja aku
Aira.” Aira memperkenalkan diri, seraya mengulurkan tangan kanannya.
“Hai juga. Udah tau namaku kan? Senang berkenalan sama
kamu.” Jawab Sasha ramah.
“Iya, aku udah tau nama kamu kok. Aku juga senang bisa kenalan sama kamu. Oh ya, nanti pas jam istirahat ke kantin sama aku yuk?” Ajak Aira.
Sasha menjawab ajakan Aira dengan anggukan kecil yang mantap.
“Iya, aku udah tau nama kamu kok. Aku juga senang bisa kenalan sama kamu. Oh ya, nanti pas jam istirahat ke kantin sama aku yuk?” Ajak Aira.
Sasha menjawab ajakan Aira dengan anggukan kecil yang mantap.
—
Tidak terasa sudah satu semester Sasha bersekolah di
SMA Bakti Negeri. Semakin hari, popularitas Sasha semakin naik. Hampir setiap
hari Sasha menerima kiriman karangan bunga dan cokelat. Namun semua itu tidak
pernah membuat Sasha menjadi sombong, Sasha tetap ramah dan rendah hati. Dan
itulah salah satu alasan mengapa semakin hari fans Sasha selalu bertambah.
Tidak terasa bel masuk berbunyi, Sasha beserta
teman-teman sekelasnya berhamburan masuk ke dalam kelas disusul oleh bu Anita
di belakang mereka.
“Anak-anak, hari ini ibu adakan kuis mendadak. Siapkan selembar kertas dan sebuah bolpoint. Selain yang ibu sebutkan, tolong semuanya masukkan ke dalam tas. Lalu tas kalian kumpulkan ke depan!” Perintah bu Anita.
“Sa, udah siap buat kuis ini?” Tanya Aira setengah berbisik.
“Udah dong, apa sih yang nggak siap buat matematika, hehe. Kalo kamu ra?” Tanya Sasha balik.
“Anak-anak, hari ini ibu adakan kuis mendadak. Siapkan selembar kertas dan sebuah bolpoint. Selain yang ibu sebutkan, tolong semuanya masukkan ke dalam tas. Lalu tas kalian kumpulkan ke depan!” Perintah bu Anita.
“Sa, udah siap buat kuis ini?” Tanya Aira setengah berbisik.
“Udah dong, apa sih yang nggak siap buat matematika, hehe. Kalo kamu ra?” Tanya Sasha balik.
“Sama. Matematika kan cinta matiku, hehe.” Jawab Aira
santai. Kemudian keduanya saling tertawa tertahan.
“Baik. Soalnya berjumlah 15 soal, waktu kalian 45
menit. Dimulai dari… Sekarang!” Tegas bu Anita. Spontan kelas menjadi hening,
karena para siswa serius mengerjakan soal.
Hanya butuh waktu 30 menit bagi Sasha dan Aira untuk
mengerjakan soal yang ada di hadapan mereka. Bagi mereka berdua, matematika
adalah segalanya.
Selesai mengerjakan, mereka berdua kemudian keluar kelas untuk membeli jajan ke kantin. Namun ketika mereka sedang berjalan menyusuri koridor yang berada di samping lapangan futsal, tiba-tiba ada seorang cowok yang berteriak sambil setengah berlari ke arah Sasha. Sayangnya ketika Sasha dan Aira menyadari hal tersebut, semuanya sudah terlambat. Akhirnya…
Selesai mengerjakan, mereka berdua kemudian keluar kelas untuk membeli jajan ke kantin. Namun ketika mereka sedang berjalan menyusuri koridor yang berada di samping lapangan futsal, tiba-tiba ada seorang cowok yang berteriak sambil setengah berlari ke arah Sasha. Sayangnya ketika Sasha dan Aira menyadari hal tersebut, semuanya sudah terlambat. Akhirnya…
“Buuuukkk…”
Tiba-tiba Sasha merasa semuanya berputar, lama-kelamaan menjadi buram dan semakin gelap. Sasha masih sempat melihat Aira yang panik sebelum akhirnya ia terjatuh dan pingsan.
Tiba-tiba Sasha merasa semuanya berputar, lama-kelamaan menjadi buram dan semakin gelap. Sasha masih sempat melihat Aira yang panik sebelum akhirnya ia terjatuh dan pingsan.
—
Suasana ruang UKS siang itu terlihat tenang. Hanya ada
beberapa siswi yang sedang menimbang berat badan dan seorang petugas UKS yang
sedang duduk di mejanya. Di depan pintu sebuah kamar yang tertutup, Aira sedang
mondar-mandir di depan pintu dengan raut wajah yang sangat gelisah. Sementara
di sampingnya duduk seorang siswa yang masih mengenakan seragam futsal dengan
lengan kanan bertuliskan “CAPTAIN” juga dengan raut wajah yang sama.
Keheningan terasa mencekat di antara mereka berdua, karena mereka sama-sama sibuk dengan pikiran masing-masing. Sebelum akhirnya siswa yang dari tadi duduk di samping Aira dengan raut muka menyesal membuka percakapan.
“Mmm… Gu.. Gu.. Gue minta maaf.” Ungkapnya terbata sambil menunduk.
Keheningan terasa mencekat di antara mereka berdua, karena mereka sama-sama sibuk dengan pikiran masing-masing. Sebelum akhirnya siswa yang dari tadi duduk di samping Aira dengan raut muka menyesal membuka percakapan.
“Mmm… Gu.. Gu.. Gue minta maaf.” Ungkapnya terbata sambil menunduk.
“Minta maaf buat apa?” Tanya Aira bingung.
“Ya. Gara-gara gue, temen lo jadi celaka.”
“Minta maafnya jangan sama gue dong, tapi sama Sasha!”
Jelas Aira
“Ya, tapi kan Sashanya belum sadar. Jadi minta maafnya
gue titipin ke lo.”
“Ya nggak bisa gitu dong, orang yang salah lo kok gue
yang nyampein maaf lo ke Sasha. Elo harus minta maaf langsung ke orangnya. Elo
harus tunggu sampai Sasha sadar, baru deh minta maaf.”
Sebelum cowok itu menanggapi perkataan Aira. Tiba-tiba
bel masuk berbunyi. Aira pun langsung berpamitan. Cowok itu memandangi
kepergian Aira yang menghilang di balik pintu dengan perasaan bingung. Kemudian
ia memutuskan untuk masuk ke dalam kamar Sasha, ternyata sewaktu ia masuk,
Sasha baru saja sadar.
“Hai. Ternyata kamu udah sadar.” Kata cowok itu pelan.
“Aku dimana? Terus kamu siapa?” Tanya Sasha panik.
“Tenang aja, nggak usah panik. Kamu sekarang di UKS,
tadi kepala kamu kebentur bola, terus kamu pingsan deh. Oh iya, kenalin namaku
Arkaindra Kusuma panggil aja Arka.” Ujar Arka seraya mengulurkan tangan.
“Oh iya, aku Keisha Amelia panggil aja Sasha.” Jawab
Sasha dengan senyumannya yang bisa membuat cowok manapun meleleh.
“Mmm… Aku minta maaf ya”
“Maaf? Buat apa? Perasaan kita baru kenal deh?” Tanya Sasha bingung.
“Sebenernya kamu pingsan itu gara-gara kena bola yang aku tendang. Tapi beneran aku nggak sengaja, maafin aku ya?” Pinta Arka.
“Maaf? Buat apa? Perasaan kita baru kenal deh?” Tanya Sasha bingung.
“Sebenernya kamu pingsan itu gara-gara kena bola yang aku tendang. Tapi beneran aku nggak sengaja, maafin aku ya?” Pinta Arka.
“Ya ampuuun, aku pikir apaan. Kalau soal itu sih udah
aku maafin. Lagian salah aku sendiri sih, tadi kamu kan udah teriak-teriak tapi
aku aja yang nggak denger.” Jawab Sasha santai.
“Syukur deh kamu mau maafin aku. Kalau nggak, pasti
aku bakalan merasa bersalah seumur hidup, soalnya udah bikin cewek secantik
kamu jadi benci sama aku.”
“Duuh apaan sih. Kamu itu gombal banget deh.” Ucap Sasha dengan pipi bersemu merah.
“Iya, beneran deh. Ciyus, hehe.”
“Duuh apaan sih. Kamu itu gombal banget deh.” Ucap Sasha dengan pipi bersemu merah.
“Iya, beneran deh. Ciyus, hehe.”
Dalam hitungan menit, mereka berdua semakin akrab.
Banyak topik yang mereka bahas, mulai dari guru-guru killer yang ada di SMA
Bakti Negeri, ruang kelas mereka yang ternyata bersebelahan, sampai hobi dan
makanan favorit. Bahkan pulang sekolah nanti Arka dan Sasha berencana pulang
bersama. Dengan alasan Arka masih merasa bersalah atas musibah yang menimpa
Sasha.
—
Tepat sebulan yang lalu saat bola yang ditendang Arka
mengenai kepala Sasha. Hari ini Arka mengajak Sasha ke salah satu tempat yang
katanya sangat istimewa. Di sana Arka akan mengenalkan sesorang yang sangat
istimewa dalam hidup Arka ke Sasha. Saat tiba di tempat yang dimaksud Arka,
beribu pertanyaan berputar-putar di dalam kepala Sasha, namun rasa ingin
tahunya ia pendam dahulu. Karena tadi ia telah berjanji untuk tidak
bertanya-tanya dulu sebelum Arka menunjukkan orang istimewa tersebut. Arka
mengajak Sasha memasuki sebuah ruangan, dari balik pintu tampak seorang cewek
yang duduk di tepi tempat tidur sambil tersenyum lirih ketika mengetahui Arka
memasuki ruangan.
“Hai Ka.” Sapa cewek itu seraya tersenyum.
“Hai Ka.” Sapa cewek itu seraya tersenyum.
“Hai Ra. Kamu baik-baik aja kan?” Tanya Arka cemas.
“Ya beginilah keadaanku, sebaik apapun aku nggak akan
bisa seperti orang-orang normal. Oh iya, siapa cewek yang ada di sebelah kamu?
Cewek kamu ya?”
“Tuh kan sampai lupa. Ini temen aku namanya Sasha, dia
satu sekolah sama aku.” Ucap Arka seraya menunjuk ke arah Sasha.
“Hai Sha, namaku Tiara. Aku temennya Arka, senang bisa
bertemu kamu. Oh ya, aku titip tolong jagain Arka ya. Aku lihat kalian berdua
memang serasi.” Ucap Tiara lirih.
“Aku juga senang bisa kenalan sama kamu.” Jawab Sasha.
Setelah waktu menunjukkan agak siang, Arka dan Sasha
berpamitan pulang. Sebelum Arka mengantar Sasha pulang, ia mengajak Sasha untuk
makan siang di sebuah café sambil membicarakan soal Tiara tadi.
“Ka, sebenernya cewek tadi itu siapa?” Tanya Sasha
dengan hati-hati.
“Dia… mantanku.” Jawab Arka ragu.
“Dia… mantanku.” Jawab Arka ragu.
“Mmm.. bukannya aku mau ikut campur. Tapi, kalau boleh
tau kenapa ya kalian putus?”
“Itu semua karena penyakitnya. Dia bilang, dia nggak mau kalau suatu saat nanti tiba-tiba dia ninggalin aku terus aku jadi depresi. Dia nyuruh aku supaya siap-siap mulai dari sekarang, karena umurnya udah nggak panjang lagi.”
“Itu semua karena penyakitnya. Dia bilang, dia nggak mau kalau suatu saat nanti tiba-tiba dia ninggalin aku terus aku jadi depresi. Dia nyuruh aku supaya siap-siap mulai dari sekarang, karena umurnya udah nggak panjang lagi.”
“Aku turut bersedih ya. Terus kenapa kamu ngajakin aku
kesana?”
“Dulu dia pernah bilang kalau aku udah nemuin cewek
yang punya beberapa kesamaan sama dia, aku harus ngajak cewek itu ketemu dia.
Supaya dia bisa tahu cewek yang akan menggantikan posisinya dalam hatiku.”
Jelas Arka dengan rahang yang mulai mengeras.“Tapi, kenapa harus aku? Emang apa
kesamaan aku sama Tiara?” Tanya Sasha bingung.
“Banyak Sha. Kamu sama Tiara sama-sama cerdas,
sama-sama cantik, sama-sama rendah hati, dan masih banyak lagi. Dan yang paling
penting, kamu punya mata yang sama persis dengan Tiara. Setiap aku menatap mata
kamu, aku selalu bisa merasakan kalau Tiara ada di dalamnya.” Jelas Arka dengan
air mata yang mulai mengalir.
Sasha masih terheran-heran mendengar penjelasan Arka barusan. Ia masih belum bisa mempercayai akan apa yang telah dikatakan Arka tentang Tiara. Sekarang Sasha tahu alasan mengapa Arka selalu menatapnya tepat di matanya tanpa sanggup mengalihkan pandangannya sedikitpun. Dan mulai saat itu Sasha mulai mengagumi kepribadian yang dimiliki oleh Arka. Arka memang cowok yang bisa dibilang mendekati sempurna, pantas saja kalau Tiara tidak rela jika cowok yang sangat dicintainya menjadi depresi hanya karena kepergiannya.
Sasha masih terheran-heran mendengar penjelasan Arka barusan. Ia masih belum bisa mempercayai akan apa yang telah dikatakan Arka tentang Tiara. Sekarang Sasha tahu alasan mengapa Arka selalu menatapnya tepat di matanya tanpa sanggup mengalihkan pandangannya sedikitpun. Dan mulai saat itu Sasha mulai mengagumi kepribadian yang dimiliki oleh Arka. Arka memang cowok yang bisa dibilang mendekati sempurna, pantas saja kalau Tiara tidak rela jika cowok yang sangat dicintainya menjadi depresi hanya karena kepergiannya.
—
Sudah beberapa bulan terakhir ini hubungan Sasha dan
Arka menjadi semakin dekat. Banyak teman-teman Arka yang bingung akan perubahan
sifat Arka akhir-akhir ini. Dari dulu Arka terkenal paling dingin bila harus
berhadapan dengan makhluk yang namanya cewek, apalagi setelah ia harus menerima
kenyataan bahwa cewek yang sangat dicintainya (Tiara) mengidap penyakit kanker.
Tapi semenjak Arka mengenal Sasha, ia lebih sabar dan memahami karakter cewek.
Itu juga membuat Aira menjadi penasaran dengan hubungan Sasha dan Arka.
Akhirnya sewaktu istirahat di kantin, Aira memutuskan untuk menanyakan hal itu
ke Sasha.
“Sha, kamu sekarang makin deket aja ya sama Arka.”
Aira membuka percakapan.
“Nggak juga. Dari dulu aku sama Arka kan emang deket.” Jawab Sasha santai sambil melahap mie ayamnya.
“Nggak juga. Dari dulu aku sama Arka kan emang deket.” Jawab Sasha santai sambil melahap mie ayamnya.
“Tapi menurutku kalian sekarang itu beda. Dari cara
kalian saling tatap itu kayak orang pacaran. Ya aku sih seneng aja kalau kamu
pacaran sama Arka. Soalnya Arka orangnya kan baik dan bertanggungjawab pula.
Aku yakin dia bisa jagain kamu.”
“Jangan alay deh. Aku sama Arka cuma temen. Dan nggak akan pacaran.” Elak Sasha.
Belum sempat Aira mengintrogasi Sasha lebih lanjut, tiba-tiba Adi berlari menghampiri mereka berdua dengan wajah panik.
“Jangan alay deh. Aku sama Arka cuma temen. Dan nggak akan pacaran.” Elak Sasha.
Belum sempat Aira mengintrogasi Sasha lebih lanjut, tiba-tiba Adi berlari menghampiri mereka berdua dengan wajah panik.
“Sha, lo harus ikut gue ke rumah sakit sekarang.” Ajak
Adi sambil menarik tangan Sasha.
“Bentar, bentar. Emang kenapa?” Tanya Sasha bingung
“Itu.. itu.. si Arka kecelakaan Sha. Keadaannya parah,
dia sekarang koma di rumah sakit.” Jelas Adi terbata.
Secara refleks, gelas yang tadinya dipegang Sasha
tiba-tiba terlepas dari pegangan tangan Sasha dan jatuh berkeping-keping ke
lantai. Tanpa mengeluarkan kata untuk menanggapi Adi, Sasha langsung berlari ke
luar untuk segera berangkat ke rumah sakit.
Setibanya di rumah sakit, Sasha langsung bertanya ke
perawat dimana kamar Arka. Ternyata Arka berada di ruang ICU. Dari luar jendela
ICU, Sasha menangisi Arka yang terbaring lemah di atas tempat tidur, dengan
berbagai kabel untuk menopang hidupnya saat ini. Sasha tidak sanggup melihat
keadaan Arka yang seperti saat ini. Ingin rasanya Sasha meminta kepada Tuhan
untuk menggantikan posisi Arka saat ini.
—
Sudah seminggu Arka terbaring di rumah sakit. Tapi
sampai saat ini, Arka belum sadarkan diri. Dokter pernah mengatakan bahwa
harapan hidup Arka sangatlah kecil. Namun Sasha tidak pernah putus asa dan
selalu percaya bahwa suatu saat nanti Arka akan sadar dan sehat seperti
sediakala.
Hari ini Sasha menjenguk Arka seperti biasanya. Ketika
memasuki ruang ICU, air mata Sasha kembali menetes tanpa bisa ia kendalikan.
Mata Sasha sangat sembab bahkan bengkak karena seminggu terakhir ini Sasha
terus menerus menangisi Arka. Kemudian Sasha duduk di sebelah tempat tidur Arka
sambil berkata pelan.
“Ka, kamu pasti sembuh. Kamu nggak akan ninggalin aku
sendirian. Kamu pasti akan menepati janji kamu buat ngajak aku merasakan kesegaran
air hujan di luar sana. Aku akan selalu setia nungguin kamu disini, sampai kamu
sadar dan menepati janji kamu.” Ucap Sasha tanpa sanggup menahan air matanya
yang mengalir begitu derasnya.
Tiba-tiba Sasha merasakan sepasang tangan hangat
menyentuh tangan kanannya. Spontan Sasha menengok ke arah Arka, dan tanpa bisa
dipercaya ternyata Arka sedang tersenyum sambil menatap Sasha lekat-lekat.
Kehangatan terpancar dari sinar mata Arka, membuat hati Sasha yang tadinya
terluka dan hancur menjadi sangat tenang. Tanpa sanggup berkata-kata, Sasha
memeluk Arka erat-erat seolah-olah tak ingin kehilangan Arka untuk yang kedua
kalinya.
“Sha, aku menepati janjiku kan? Aku akan selalu
menemani kamu dan nggak akan pernah ninggalin kamu sendirian. Dan nanti kalau
aku udah pulang dari sini, aku akan mengajak kamu buat merasakan kesegaran air
hujan di luar sana. Tapi kamu juga harus janji sama aku, kamu nggak akan pernah
nangis lagi kayak sekarang. Aku mau kamu hapus semua air mata kamu. Kalau kamu
sedih, aku juga ikutan sedih.” Ungkap Arka lirih.
“Iya bawel. Kamu itu ya, lagi sakit gini masih bisa
bawel aja.” Jawab Sasha seraya menghapus air matanya.
“Biar bawel-bawel gini, kamu suka kan?” Goda Arka.
“Iya iya. Justru yang bikin aku suka kamu itu karena
kamu bawel.” Jawab Sasha mantap seraya menatap Arka lekat.
“Sha, aku sayang sama kamu. Aku pengen selalu jagain kamu
dan selalu ada buat kamu.”
“Aku juga sayaaaaaaang banget sama kamu Ka. Aku juga
pengen kamu selalu ada buat jagain dan nemenin aku sampai kapanpun.”
“Aku juga mau bilang makasih karena kamu udah hadir
dalam hidup aku, menjadi seseorang yang melengkapi hidupku. Kamu adalah
malaikat yang menyadarkan aku kalau di dunia ini cewek bukan cuma Tiara dan aku
harus tetap melanjutkan hidup dengan atau tanpa Tiara.” Ucap Arka.
Mereka berdua pun larut dalam suasana itu. Mereka
saling menatap untuk menggenapkan rindu yang separuh dan saling berjanji dalam
hati untuk selalu menjaga satu sama lain.
TAMAT
Cerpen Karangan: Nedya Putri Perdana K
Facebook: Nedya Putri
Twitter: @Nedyaaa
ig: nedyappk
line: Nedyaaa
Path: Nedya Putri
Blog: nedyaperdana.blogspot.com






0 komentar:
Posting Komentar
Silahkan berkomentar dengan sopan yaa :)