Selasa, 30 Desember 2014

MANFAAT TEKNOLOGI INFORMASI BIMBINGAN DAN KONSELING

Seiring kemajuan dan perkembangan zaman, seluruh aspek kehidupan akan menyesuaikan dengan kemajuan tersebut agar tidak terjadinya ketimpangan serta ketinggalan dalam mengikuti perkembangan zaman. Dari masa ke masa kemajuan seluruh aspek kehidupan akan terus berkembang secara dinamis serta selaras, dari kemajuan tersebut lahirlah istilah era informasi/global. Dalam era informasi, kecanggihan teknologi informasi dan komunikasi telah memungkinkan terjadinya pertukaran informasi yang cepat tanpa terhambat oleh batas ruang dan waktu. Teknologi informasi dan komunikasi merupakan salah satu pendorong terjadinya globalisasi, oleh karena itu penguasaan teknologi informasi dan komunikasi merupakan hal mutlak yang harus dicapai. Teknologi informasi adalah suatu teknologi yang digunakan untuk mengolah data, meliputi : memproses, mendapatkan, menyusun, menyimpan, memanipulasi data dengan berbagai cara untuk menghasilkan informasi yang berkualitas.
Teknologi Informasi (TI) pada zaman sekarang sudah memasuki dunia pendidikan baik formal maupun semiformal atau pun nonformal. Oleh sebab itu, seluruh bagian yang terintegrasi oleh pendidikan terutama pendidikan formal akan dituntut untuk melaksanakan tugasnya dengan menggunakan teknologi. Begitu pula dengan Bimbingan dan Konseling (BK) yang menjadi bagian yang terintegrasi oleh komponen pendidikan formal, dituntut pula menggunakan TI dalam menjalankan program Bimbingan dan Konseling.
Dalam pelaksanaan BK konvensional masih banyak terdapat kendala yang terjadi, seperti jumlah konseli yang terlalu banyak sedangkan jumlah konselor tidak sebanding, terbatasnya waktu yang dimiiki konselor dan konseli untuk melakukan konseling dan layanan BK lainnya, dan rendahnya tingkat profesionalitas konselor yang harus ditingkatkan melalui teknologi. Teknologi dapat membuat kinerja konselor menjadi lebih cepat, mudah, dan tertangani dalam pelayanan BK sehingga konselor akan lebih produktif dan lebih profesional. TI memiliki manfaat dan peranan dalam Bimbingan dan Konseling. Peranan TI dalam BK sebagai media canggih yang akan mempermudah jalannya suatu pelayanan BK, sebagai cara untuk meningkatkan keterampilan dan kreatifitas konselor dalam menyajikan layanan BK yang dinamis sehingga konseli tidak merasa jenuh dan menganggap BK ketinggalan zaman, sebagai alat untuk meningkatkan prestise BK pada masyarakat, sebagai layanan dukungan sistem pada BK agar layanan yang diberikan menjadi lebih efektif dan efesien, sebagai media untuk mempermudah dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi dalam kegiatan BK, sebagai media yang dapat meningkatkan produktifitas kinerja konselor, sebagai media yang mempengaruhi program BK yang lebih modern, sebagai media untuk menghilangkan masalah jarak dan waktu yang dialami konselor dan konseli ketika pelayanan BK berlangsung, dan sebagai alat untuk memperkuat kompetisi terhadap profesi lainnya agar BK tidak ditinggalkan oleh konseli.
TI juga memiliki manfaat dalam BK, yaitu membantu konselor dalam mengolah dan menyimpan data konseli secara lebih aman dan data lainnya yang dibutuhkan dalam BK, membantu konselor untuk melakukan cyber counseling, membantu konselor untuk mempublikasikan informasi secara up to date dan lebih luas jangkauannya tanpa harus bertemu secara face to face, membantu konselor dalam melaksanakan program agar lebih efektif dan efesien melalui aplikasi khusus tentang instrumen BK, membantu konselor dalam berkomunikasi dengan konseli dengan lebih mudah, membantu konselor untuk memperoleh data lebih mudah, membantu konselor untuk melaksanakan pendekatan dengan konseli melalui alat komunikasi canggih, mempermudah konselor dalam menyusun, mencari dan juga mengolah data., membantu konselor dalam menjaga kerahasiaan suatu data, karena dengan teknologi memungkinkan untuk menguncinya dan tidak sembarang orang dapat mengaksesnya, menjadikan teknologi informasi sebagai alat dalam suatu program kegiatan, sehingga kegiatan tersebut lebih teratur dan terstruktur, membantu konselor dalam melakukan assesmen terhadap konseli khusunya pada Inventori Tugas Perkembangan (ITP) dan Analisis Tugas Perkembangan (ATP) yang sudah dikembangkan, membantu konselor memberikan pelayanan melalui internet. Dalam aplikasinya teknologi dan informasi ini lebih diarahkan untuk membantu konseli dalam pemenuhan kebutuhan informasi terutama ketika seorang konseli ingin melanjutkan studi ke jenjang selanjutnya. Kelebihan daripada ini, konseli lebih cepat mengakses semua informasi yang ada dan tidak harus melakukan proses konseling secara langsung.
Pemanfaatan teknologi informasi dalam bimbingan dan konseling memberikan dampak positif dan negative. Dampak positifnya adalah semakin mudahnya interaksi antara konselor dengan kliennya yang tidak harus bertatap muka dalam pelaksanaan proses bimbingan dan konseling. Teknologi informasi juga memudahkan klien untuk mendapatkan informasi yang dia butuhkan pada saat itu juga. Dalam proses bimbingan dan konseling masih banyak yang belum mengetahui pemanfaatan media teknologi informasi untuk menunjang layanan bimbingan dan konseling. Konselor sekolah tidak semuanya mengerti atau paham tentang penggunaan internet. Padahal internet merupakan media yang sangat efektif dalam proses layanan bimbingan dan konseling. Untuk itu, perlu adanya suatu sosialisasi untuk meningkatkan kinerja konselor di sekolah dalam hal memanfaatkan kemajuan teknologi informasi agar nantinya bidang bimbingan dan konseling tidak lagi menjadi bidang layanan yang membosankan dan menjenuhkan. Tidak hanya konselor yang perlu diberikan sosialisasi. Para konseli yang dalam hal ini adalah siswa juga perlu diberikan suatu sosialisasi agar kemajuan teknologi informasi tersebut bisa dimanfaatkan sesuai apa yang diharapkan. Dengan kata lain, teknologi informasi tersebut tidak disalahgunakan untuk hal yang negatif.
Jika konselor dan konseli sudah paham akan manfaat dan pentingnya teknologi informasi dalam menunjang proses layanan bimbingan dan konseling, maka ke depannya bimbingan dan konseling akan menjadi suatu bidang pendidikan yang inovatif dan efisien berkat kemajuan teknologi informasi namun tetap tidak menghilangkan esensi dari layanan bimbingan dan konseling itu sendir

Sejarah Kota Semarang



SEJARAH KOTA SEMARANG


Semarang sebagai salah satu kota di Indonesia yang memiliki sejarah panjang, terutama bagi sejarah kependudukan Belanda di Indonesia dengan berbagai peninggalannya saat ini menjadi satu tujuan wisata budaya yang menarik bagi para wisatawan, terutama, juga bagi seorang arkeolog.
Dikutip dari blog pribadi, Semarang banyak sekali memiliki bangunan sejarah yang patut diketahui. Namun, mengenal Semarang harus mengetahui juga bagaimana sejarah panjang kota ini terbentuk. Berikut sejarah kota Semarang
Menurut data yang didapat dari situs internet wikipedia.org, sejarah Semarang berawal kurang lebih pada abad ke-8 M, yaitu daerah pesisir yang bernama Pragota (sekarang menjadi Bergota) dan merupakan bagian dari kerajaan Mataram Kuno. Daerah tersebut pada masa itu merupakan pelabuhan dan di depannya terdapat gugusan pulau-pulau kecil.
Akibat pengendapan, yang hingga sekarang masih terus berlangsung, gugusan tersebut sekarang menyatu membentuk daratan. Bagian kota Semarang Bawah yang dikenal sekarang ini dengan demikian dahulu merupakan laut.
Pelabuhan tersebut diperkirakan berada di daerah Pasar Bulu sekarang dan memanjang masuk ke Pelabuhan Simongan, tempat armada Laksamana Cheng Ho bersandar pada tahun 1405 M. Di tempat pendaratannya, Laksamana Cheng Ho mendirikan kelenteng dan mesjid yang sampai sekarang masih dikunjungi dan disebut Kelenteng Sam Po Kong (Gedung Batu).
Selain itu dari sumber yang sama mengenai sejarah penamaan kota semarang serta awal mula kependudukan belanda dikota tersebut yakni berawal pada akhir abad ke-15 M, yakni adanya seseorang yang ditempatkan oleh Kerajaan Demak, dikenal sebagai Pangeran Made Pandan (Sunan Pandanaran I), untuk menyebarkan agama Islam dari perbukitan Pragota.
Dari waktu ke waktu daerah itu semakin subur, dari sela-sela kesuburan itu muncullah pohon asam yang arang (bahasa Jawa: Asem Arang), sehingga memberikan gelar atau nama daerah itu menjadi Semarang.
Sebagai pendiri desa, kemudian menjadi kepala daerah setempat, dengan gelar Kyai Ageng Pandan Arang I. Sepeninggalnya, pimpinan daerah dipegang oleh putranya yang bergelar Pandan Arang II (kelak disebut sebagai Sunan Bayat atau Sunan Pandanaran II atau Sunan Pandanaran Bayat atau Ki Ageng Pandanaran atau Sunan Pandanaran).
Di bawah pimpinan Pandan Arang II, daerah Semarang semakin menunjukkan pertumbuhannya yang meningkat, sehingga menarik perhatian Sultan Hadiwijaya dari Pajang. Karena persyaratan peningkatan daerah dapat dipenuhi, maka diputuskan untuk menjadikan Semarang setingkat dengan Kabupaten.
Tanggal 2 Mei kemudian ditetapkan sebagai hari jadi kota Semarang
Pada tanggal 2 Mei 1547 bertepatan dengan peringatan maulid Nabi Muhammad SAW, tanggal 12 rabiul awal tahun 954 H disahkan oleh Sultan Hadiwijaya setelah berkonsultasi dengan Sunan Kalijaga. Tanggal 2 Mei kemudian ditetapkan sebagai hari jadi kota Semarang.
Kemudian pada tahun 1678 Amangkurat II dari Mataram, berjanji kepada VOC untuk memberikan Semarang sebagai pembayaran hutangnya, dia mengklaim daerah Priangan dan pajak dari pelabuhan pesisir sampai hutangnya lunas.
Pada tahun 1705 Susuhunan Pakubuwono I menyerahkan Semarang kepada VOC sebagai bagian dari perjanjiannya karena telah dibantu untuk merebut Kartasura. Sejak saat itu Semarang resmi menjadi kota msilik VOC dan kemudian Pemerintah Hindia Belanda.
Pada masa kependudukan belanda itulah semarang tumbuh menjadi satu kota pesisir yang pada masa itu dianggap sebgai kota dengan pertumbuhan yang maju pesat dengan segala pembangunannya.
Hasil dari pembangunan kota tersebut hingga kini masih dapat kita lihat dan rasakan dalam bentuk bangunan- dengan gaya arsitektur belanda serta beberapa bangunan yang mendapat pengaruh dari kebudayaan cina. Bangunan tersebut antara lain yakni gereja bledug serta bangunan-bangunan sekitar yang terdapat di Jl. Letjend. Suprapto, Klenteng Sam Po Kong, Bangunan Lawang Sewu, serta Stasiun Kereta Ambarawa.

Original Posting : Seputar Kota Lama Semarang
Foto : www.facebook.com/semarangku

TEKNIK ANALISIS DATA PENELITIAN KUANTITATIF

BAB 8
ANALISIS DATA

A.    STATISTIK DESKRIPTIF DAN INFERENSIAL
Statistika deskriptif adalah metode-metode yang berkaitan dengan pengumpulan dan penyajian suatu gugus data sehingga memberikan informasi yang berguna. Pengklasifikasian menjadi statistika deskriptif dan statistika inferensia dilakukan berdasarkan aktivitas yang dilakukan.
Statistika deskriptif hanya memberikan informasi mengenai data yang dipunyai dan sama sekali tidak menarik inferensia atau kesimpulan apapun tentang gugus induknya yang lebih besar. Contoh statistika deskriptif yang sering muncul adalah, tabel, diagram, grafik, dan besaran-besaran lain di majalah dan koran-koran. Dengan Statistika deskriptif, kumpulan data yang diperoleh akan tersaji dengan ringkas dan rapi serta dapat memberikan informasi inti dari kumpulan data yang ada. Informasi yang dapat diperoleh dari statistika deskriptif ini antara lain ukuran pemusatan data, ukuran penyebaran data, serta kecenderungan suatu gugus data.
Statistika inferensial. Statistika inferensia mencakup semua metode yang berhubungan dengan analisis sebagian data (contoh ) atau juga sering disebut dengan sampel untuk kemudian sampai pada peramalan atau penarikan kesimpulan mengenai keseluruhan data induknya(populasi).
Dalam statistika inferensia diadakan pendugaan parameter, membuat hipotesis, serta melakukan pengujian hipotesis tersebut sehingga sampai pada kesimpulan yang berlaku umum.Metode ini disebut juga statistika induktif, karena kesimpulan yang ditarik didasarkan pada informasi dari sebagian data saja. Pengambilan kesimpulan dari statistika inferensia yang hanya didasarkan pada sebagian data saja sebagian data saja menyebabkan sifat tak pasti, memungkinkan terjadi kesalahan dalamn pengambilan keputusan, sehingga pengetahuan mengenai teori peluang mutlak diperlukan dalam melakukan metode-metode statistika inferensia.

B.     STATISTIK PARAMETRIS DAN NONPARAMETRIS
Statistik Parametrik, yaitu ilmu statistik yang mempertimbangkan jenis sebaran atau distribusi data, yaitu apakah data menyebar secara normal atau tidak. Dengan kata lain, data yang akan dianalisis menggunakan statistik parametrik harus memenuhi asumsi normalitas. Pada umumnya, jika data tidak menyebar normal, maka data seharusnya dikerjakan dengan metode statistik non-parametrik, atau setidak-tidaknya dilakukan transformasi terlebih dahulu agar data mengikuti sebaran normal, sehingga bisa dikerjakan dengan statistik parametrik.
Statistik Non-Parametrik adalah test yang modelnya tidak menetapkan syarat-syaratnya yang mengenai parameter-parameter populasi yang merupakan induk  sampel penelitiannya. Oleh karena itu observasi-observasi independent dan variabel yang diteliti pada dasarnya memiliki kontinuitas. Uji metode non parametrik atau bebas sebaran adalah prosedur pengujian hipotesa yang tidak mengasumsikan pengetahuan apapun mengenai sebaran populasi yang mendasarinya kecuali selama itu kontinu.
Pendeknya: Statistik Non-Parametrik adalah yaitu statistik bebas sebaran (tidak mensyaratkan bentuk sebaran parameter populasi, baik normal atau tidak). Selain itu, statistik non-parametrik biasanya menggunakan skala pengukuran sosial, yakni nominal dan ordinal yang umumnya tidak berdistribusi normal. 
Penggunaan kedua statistik tersebut juga tergantung pada jenis data yang dianalisis. Statistik parametris kebanyakan digunakan untuk menganalisis data interval dan rasio, sedangkan statistik nonparametris kebanyakan digunakan untuk menganalisis data nominal dan ordinal.  Jadi untuk menguji hipotesis dalam penelitian kuantitatif yang menggunakan statistik, ada dua hal utama yang harus diperhatikan, yaitu macam data dan bentuk hipotesis yang diajukan.

C.     JUDUL PENELITIAN DAN STATISTIK YANG DIGUNAKAN UNTUK ANALISIS
Berikut ini diberikan salah satu contoh judul penelitian, rumusan masalah, hipotesis dan teknik statistik yang akan digunakan untuk pengujian hipotesis.

“ PENGARUH KECERDASAN EMOSIONAL TERHADAP PRESTASI PEGAWAI DI PEMERINTAH PROPINSI JAWA TENGAH “          

TABEL 1.1
CONTOH JUDUL PENELITIAN , RUMUSAN MASALAH,
HIPOTESIS DAN TEKNIK ANALISIS DATA YANG DIGUNAKAN
(SATU VARIABEL INDEPENDEN)
Rumusan Masalah
Hipotesis
Statistik untuk Uji Hipotesis
Berapakah rata-rata kecerdasan emosional pegawai di Propinsi Jawa Tengah ?
Kecerdasan emosional (EQ) pegawai di pemerintahan Propinsi Jawa Tengah paling tinggi 150
Teknik statistik yang digunakan untuk menguji hipotesis dapat dilihat pada tabel 1.2. Data yang terkumpul adalah ratio. Bentuk hipotesisnya adalah deskriptif maka teknik uji untuk hipotesis no.1 dan 2 adalah sama yaitu : t- test (untuk satu sampel).  
Berapakah rata-rata prestasi kerja pegawai ?
Prestasi kerja pegawai Pemerintah Propinsi Jawa Tengah paling tinggi 140 atau 70% dari kriteria yang diharapkan . (kriteria prestasi kerja pegawai paling tinggi misalnya 200) 
t-test satu sampel 
Adakah hubungan yang positif dan signifikan antara kecerdasan emosional pegawai dengan prestasi kerja ?
Terdapat hubungan yang positif dan signifikansi antara kecerdasan emosional dengan prestasi kerja pegawai
Data kedua variable adalah data ratio, oleh karena itu teknik statistik yang digunakan untuk menguji hipotesis adalah: Korelasi Pearson Product Moment  
Bagaimanakah pengaruh kecerdasan emosional terhadap prestasi kerja pegawai ?
Kecerdasan emosional berpengaruh positif terhadap prestasi kerja pegawai
Koefisien diterminasi, dan analisis regresi

Contoh Analisis Data
a.       Judul :”Pengaruh Kemempuan Kerja dan Motivasi Kerja Karyawan terhadap Produktivita Kerja di PT. Mitra Raja
b.      Diasumsikan penelitian menggunakan sampel, yang diambil secara straijied random sampling. Semua instrument penelitian menggunakan skala interval, sehingga data yang didapat adalah data interval dan statistic yang digunakan adalah parametris.
c.       Rumusan maslah, hipotesis dan teknik statistic yang digunakan untuk menguji hiopotesis pada judul penelitian “Pengaruh Kemampuan dan Motoivasi Kerja terhadap Produktivitas Kerja
X1 = kemampuan karyawan
X2  =  motivasi kerja
Y   =  produktivitas kerja

D.    KONSEP DASAR PENGUJIAN HIPOTESIS
Semula hipotesis dari bahasa yunani yangmempunyai dua kata ialah kata “hupo”(sementara) dan “thesis” (pernyataan atau teori). Karena hipotesis merupakan pernyataan sementara yang masih lemah kebenarannya. Kemudian para ahli menafsirkan arti hipotesis adalah sebagai dugaan terhadap hubungan antara dua variable atau lebih. Sehingga dapat diartikan bahwa hipotesis adalah jawaban atau dugaan sementara yang harus diuji lagi kebenarannya.
1.      Taraf Kesalahan Dalam Pengujian Hipotesis
Pada dasarnya menguji hipotesis itu adalah menaksir parameter populasi berdasarkan data sampel. Terdapat dua cara menaksir yaitu, a point estimate dan inteval estimate atau sering disebut confidence interval. A point estimate adalah suatu taksiran parameter populasi berdasakan satu nilai data sampel. Sedangkan interval estimate adalah suatu taksiran parameter populasi berdasarkan nilai interval data sampel.
Menaksir parameter populasi yang menggunakan point estimate akan mempunyai resiko kesalahan yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang menggunakan interval estimate. Menaksir daya tahan kerja orang Indonesia 10 jam/hari akan mempunyai kesalahan yang lebih besar bila dibandingkan dengan nilai taksiran antara 8 sampai dengan 12 jam. Makin besar interval taksirannya maka akan semakin kecil kesalahannya. Biasanya dalam penelitian kesalahan taksiran ditetapkan lebih dahulu, yang digunakan adalah 5% dan 1%.
2.      Dua kesalahan Dalam pengujian Hipotesis
Dalam menaksir parameter populasi berdasarkan data sampel, kemungkinan akan terdapat dua kesalahan yaitu:
·      Kesalahan Tipe I adalah suatu kesalahan bila menolak Ho yang benar (seharusnya diterima). Dalam hal ini tingkat kesalahan dinyatakan dengan α.
·      Kesalahan Tipe II adalah bila menerima hipotesis yang salah (seharusnya ditlolak). Tingkat kesalahan untuk ini dinyatakan dengan β.

E.     PENGERTIAN ANALISIS DATA
Dalam penelitian kuantitatif, analisis data merupakan kegiatan setelah data dari seluruh responden atau sumber data lain terkumpul. Kegiatan dalam analisis data adalah : mengelompokkan data berdasarkan variable dan jenis responden, mentabulasi data berdasarkan variabel dari seluruh responden, menyajikan data tiap variabel yang diteliti, melakukan perhitungan untuk menjawab rumusan masalah, dan melakukan perhitungan untuk menguji hipotesis yang telah diajukan. Untuk penelitian yang tidak merumuskan hipotesis, langkah terakhir tidak dilakukan.
Teknik analisis data dalam penelitian kuantitatif menggunakan statistik. Terdapat beberapa dua macam statistik yang digunakan untuk analisis data dalam penelitian, yaitu statistik deskriptif dan statistik inferensial. Statistik inferensial meliputi statistik parametris dan statistik nonparametris.