Pengertian
Pendidikan Karakter
Karakter adalah
jawaban mutlak untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik didalam masyarakat.
Karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang
Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang
terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan
norma-norma agama, hukum, tata krama,budaya,dan adat istiadat.
Pendidikan
karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga
sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan
tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha
Esa (YME), diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaan sehingga menjadi
manusia insan kamil. Dalam pendidikan karakter di sekolah, semua komponen
(stakeholders) harus dilibatkan, termasuk komponen-komponen pendidikan itu
sendiri, yaitu isi kurikulum, proses pembelajaran dan penilaian, kualitas
hubungan, penanganan atau pengelolaan mata pelajaran, pengelolaan sekolah,
pelaksanaan aktivitas atau kegiatan ko-kurikuler, pemberdayaan sarana,
prasarana, dan, pembiayaan, dan, ethos kerja seluruh warga dan lingkungan
sekolah.
“Pendidikan
karakter yang utuh dan menyeluruh tidak sekedar membentuk anak-anak muda
menjadi pribadi yang cerdas dan baik, melainkan juga membentuk mereka menjadi
pelaku baik bagi perubahan dalam hidupnya sendiri, yang pada gilirannya akan
menyumbangkan perubahan dalam tatanan sosial kemasyarakatan menjadi lebih adil,
baik, dan manusiawi.”(Doni Koesoema A.Ed)
Tujuan
Pendidikan Karakter
Tujuan
pendidikan karakter adalah penanaman nilai dalam diri siswa dan pembaruan tata
kehidupan bersama yang lebih menghargai kebebasan individu. Tujuan jangka
panjangnya tidak lain adalah mendasarkna diri pada tanggapan aktif kontekstual
individu atas impuls natural sosial yang diterimanya, yang padagilirannya
semakin mempertajam visi hidup yang akan diraih lewat proses pembentukan diri
secara terus-menerus.Tujuan jangka panjang ini merupakan pendekatan dialektis
yang semakin mendekatkan dengan kenyataa yang idea, melalui proses refleksi dan
interaksi secara terus menerus antara idealisme, pilihan sarana, dan hasil
langsung yang dapat dievaluasi secara objektif.
Faktor
Pendidikan Karakter
Faktor
lingkungan dalam konteks pendidikan karakter memiliki peran yang sangat
peting karena perubahan perilaku peserta didik sebagai hasil dari proses
pendidikan karakter sangat ditentunkan oleh faktor lingkungan ini. Dengan kata
lain pembentukan dan rekayasa lingkungan yang mencakup diantaranya lingkungan
fisik dan budaya sekolah, manajemen sekolah, kurikulum, pendidik, dan metode
mengajar. Pembentukan karakter melalui rekasyasa faktor lingkungan dapat
dilakukan melalui strategi :
1.
Keteladanan
2.
Intervensi
3.
Pembiasaan yang
dilakukan secara Konsisten
4.
Penguatan.
Dengan kata
lain perkembangan dan pembentukan karakter memerlukan pengembangan keteladanan
yang ditularkan, intervensi melalui proses pembelajaran, pelatihan,
pembiasaan terus-menerus dalam jangka panjang yang dilakukan secara konsisten
dan penguatan serta harus dibarengi dengan nilai-nilai luhur.
Tujuan
Pendidikan Karakter
Pendidikan
karakter pada intinya bertujuan membentuk bangsa yang tangguh, kompetitif,
berakhlak mulia, bermoral, bertoleran, bergotong royong, berjiwa patriotik,
berkembang dinamis, berorientasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang semuanya
dijiwai oleh iman dan takwa kepada Tuhan yang Maha Esa berdasarkan Pancasila.
Pendidikan
karakter berfungsi untuk:
1.
mengembangkan
potensi dasar agar berhati baik, berpikiran baik, dan berperilaku baik
2.
memperkuat dan
membangun perilaku bangsa yang multikultur
3.
meningkatkan
peradaban bangsa yang kompetitif dalam pergaulan dunia.
Pendidikan karakter dilakukan melalui berbagai media yang mencakup keluarga, satuan pendidikan, masyarakat sipil, masyarakat politik, pemerintah, dunia usaha, dan media massa.
Pendidikan karakter dilakukan melalui berbagai media yang mencakup keluarga, satuan pendidikan, masyarakat sipil, masyarakat politik, pemerintah, dunia usaha, dan media massa.
Pilar – Pilar
Pendidikan Karakter
Pendidian
Karakter didasarkan pada enam nilai-nilai etis bahwa setiap orang dapat
menyetujui – nilai-nilai yang tidak mengandung politis, religius, atau bias
budaya. Beberapa hal di bawah ini yang dapat kita jelaskan untuk membantu siswa
memahami Enam Pilar Pendidikan Berkarakter, yaitu sebagai berikut :
1.
Trustworthiness (Kepercayaan) : Jujur, jangan menipu, menjiplak
atau mencuri, jadilah handal – melakukan apa yang anda katakan anda akan
melakukannya, minta keberanian untuk melakukan hal yang benar, bangun reputasi
yang baik, patuh – berdiri dengan keluarga, teman dan negara.
2.
Recpect (Respek) : Bersikap toleran terhadap perbedaan, gunakan
sopan santun, bukan bahasa yang buruk, pertimbangkan perasaan orang lain,
jangan mengancam, memukul atau menyakiti orang lain, damailah dengan kemarahan,
hinaan dan perselisihan.
3.
Responsibility (Tanggungjawab) : Selalu lakukan yang
terbaik, gunakan kontrol diri, disiplin, berpikirlah sebelum bertindak –
mempertimbangkan konsekuensi, bertanggung jawab atas pilihan anda.
4.
Fairness (Keadilan) : Bermain sesuai aturan, ambil
seperlunya dan berbagi, berpikiran terbuka; mendengarkan orang lain, jangan
mengambil keuntungan dari orang lain, jangan menyalahkan orang lain
sembarangan.
5.
Caring (Peduli) : Bersikaplah penuh kasih sayang dan
menunjukkan anda peduli, ungkapkan rasa syukur, maafkan orang lain, membantu
orang yang membutuhkan.
6.
Citizenship (Kewarganegaraan) : Menjadikan sekolah dan
masyarakat menjadi lebih baik, bekerja sama, melibatkan diri dalam urusan
masyarakat, menjadi tetangga yang baik, mentaati hukum dan aturan,
menghormati otoritas, melindungi lingkungan hidup.
Nilai-nilai
Pembentuk Karakter
Satuan
pendidikan sebenarnya selama ini sudah mengembangkan dan melaksanakan
nilai-nilai pembentuk karakter melalui program operasional satuan pendidikan
masing-masing. Hal ini merupakan prakondisi pendidikan karakter pada satuan
pendidikan yang untuk selanjutnya pada saat ini diperkuat dengan 18 nilai hasil
kajian empirik Pusat Kurikulum. Nilai prakondisi (the existing values) yang
dimaksud antara lain takwa, bersih, rapih, nyaman, dan santun.
Dalam rangka
lebih memperkuat pelaksanaan pendidikan karakter telah teridentifikasi 18 nilai
yang bersumber dari agama, Pancasila, budaya, dan tujuan pendidikan nasional,
yaitu:
1.
Jujur
2.
Toleransi
3.
Disiplin
4.
Kerja
keras
5.
Kreatif
6.
Mandiri
7.
Demokratis
8.
Rasa Ingin Tahu
9.
Semangat Kebangsaan
10. Cinta
Tanah Air
11. Menghargai Prestasi
12. Bersahabat/Komunikatif
13. Cinta
Damai
14. Gemar
Membaca
15. Peduli Lingkungan
16. Peduli Sosial
17. Tanggung Jawab
18. religius
(Puskur.
Pengembangan dan Pendidikan Budaya & Karakter Bangsa: Pedoman Sekolah.
2009:9-10). Nilai dan deskripsinya terdapat dalam Lampiran 1.)
Meskipun telah terdapat 18 nilai pembentuk karakter bangsa, namun satuan pendidikan dapat menentukan prioritas pengembangannya dengan cara melanjutkan nilai prakondisi yang diperkuat dengan beberapa nilai yang diprioritaskan dari 18 nilai di atas. Dalam implementasinya jumlah dan jenis karakter yang dipilih tentu akan dapat berbeda antara satu daerah atau sekolah yang satu dengan yang lain. Hal itu tergantung pada kepentingan dan kondisi satuan pendidikan masing-masing. Di antara berbagai nilai yang dikembangkan, dalam pelaksanaannya dapat dimulai dari nilai yang esensial, sederhana, dan mudah dilaksanakan sesuai dengan kondisi masing-masing sekolah/wilayah, yakni bersih, rapih, nyaman, disiplin, sopan dan santun.
Meskipun telah terdapat 18 nilai pembentuk karakter bangsa, namun satuan pendidikan dapat menentukan prioritas pengembangannya dengan cara melanjutkan nilai prakondisi yang diperkuat dengan beberapa nilai yang diprioritaskan dari 18 nilai di atas. Dalam implementasinya jumlah dan jenis karakter yang dipilih tentu akan dapat berbeda antara satu daerah atau sekolah yang satu dengan yang lain. Hal itu tergantung pada kepentingan dan kondisi satuan pendidikan masing-masing. Di antara berbagai nilai yang dikembangkan, dalam pelaksanaannya dapat dimulai dari nilai yang esensial, sederhana, dan mudah dilaksanakan sesuai dengan kondisi masing-masing sekolah/wilayah, yakni bersih, rapih, nyaman, disiplin, sopan dan santun.






0 komentar:
Posting Komentar
Silahkan berkomentar dengan sopan yaa :)